Journey Menjadi AI Engineer: Dari Freelancer Jadi Senior Fullstack AI Engineer dalam Setahun

Awal 2025 saya full freelancing: jualan tools, ngirim cold email, belajar sales dari nol. Setahun kemudian, saya tanda tangan offer sebagai Senior Fullstack AI Engineer dengan dua digit salary, kurang dari sebulan setelah mulai apply.

Tulisan ini adalah cerita bagaimana itu bisa terjadi dan kenapa menurut saya momen ini terbuka lebar untuk software engineer manapun yang mau switch.

2025: Setahun jadi self-employed

Sepanjang 2025, saya full focus jadi self-employed. Modalnya dana darurat yang cukup buat bertahan setahun. Jadi saya pakai itu sebagai runway untuk eksplorasi: freelancing, jualan tools, belajar sales & marketing.

Yang saya pelajari banyak: n8n untuk automation, cold emailing, copywriting, online pitching. Tapi yang lebih banyak lagi adalah kegagalannya. Learn a lot and fail a lot.

Tidak ada satu pun rencana saya saat itu yang menyebut “jadi AI Engineer”.

Oktober 2025: Nyemplung ke agentic AI tanpa rencana

Sembari masih freelancing, sekitar Oktober 2025 saya mulai pakai agentic AI untuk bikin sebuah tools untuk generate image dan video pakai model seperti Nano Banana dan Google VEO 3.1.

Niat awalnya cuma satu: bikin produk yang bisa dijual. Tapi tanpa sadar, saya lagi belajar skill yang sebentar lagi jadi sangat dicari pasar.

Industri yang berubah cepat (Oktober 2025 – Januari 2026)

Antara Oktober 2025 sampai Januari 2026, model AI makin booming. Yang menarik adalah munculnya role baru: AI Engineer. Ini bukan tipikal Machine Learning Engineer yang kerjaannya bikin, train, dan deploy model dari nol.

AI Engineer di gelombang baru ini lebih cenderung software engineer yang bisa memanfaatkan AI untuk develop software.

Bagaimana kita bisa pakai AI Agent dengan baik, bukan bagaimana kita training model dari nol.

Beda banget. Dan bedanya cukup signifikan. Karena ini berarti pintu masuknya jauh lebih terbuka untuk software engineer biasa.

Keputusan: switch fokus

Karena role-nya menarik dan demand-nya jelas booming, saya putuskan switch fokus untuk hunting kerja di role baru ini.

Jujur, ini memang riding the wave. Tapi sebetulnya ini juga bentuk adaptasi dari role software engineer konvensional yang memang sepertinya akan tergantikan, atau setidaknya berubah drastis.

Saya lebih baik memposisikan diri di sisi yang bisa menang.

Januari 2026: Persiapan intensif

Sepanjang Januari 2026, saya fokus dua hal: jadi ahli pakai Claude Code, dan benerin CV.

1. Soal Claude Code: modelnya mahal. Jadi saya riset cara-cara untuk dapat akses ke model Claude dengan biaya semurah mungkin bahkan gratis. Agar biaya belajar bisa ditekan habis-habisan.

Waktu itu saya manfaatkan free tier dari beberapa platform yang kebetulan menyediakan akses ke model Claude paling bagus (waktu itu Opus 4.5), dan saya routing semuanya supaya bisa dipakai langsung dari Claude Code.

(Detail setup teknisnya akan saya bahas di artikel terpisah.)

2. Soal CV: saya rewrite supaya kata kuncinya jelas. Saya posisikan sebagai seseorang yang handal sebagai AI Engineer (Software Engineer), bukan sekadar generalist yang kebetulan pernah pakai AI.

Februari 2026: Hasilnya

Februari 2026 saya mulai apply. Posisi yang saya cantumkan di CV: Fullstack Engineer (AI/LLM/Agent System).

Kurang dari sebulan, dapat 2 offer untuk posisi AI Engineer.

Taruhan saya berhasil.

Role ini memang lagi banyak banget dicari, dan jauh lebih gampang ditembus dibanding kalau saya spesifik nyari Frontend atau Backend Engineer saja.

Saya akhirnya accept role Senior Fullstack AI Engineer, dua digit salary di Indonesia.

Buat Anda yang mau switch

Buat siapa pun yang pengen masuk ke role AI Engineer… INI SAATNYA.

Apalagi kalau kamu ada background software engineer (Data/Frontend/Backend), kamu bisa switch dengan jauh lebih gampang dari yang kamu kira.

Beberapa hal yang menurut saya penting:

  • Buang ambisi spesialisasi single-role. Frontend saja, atau Backend saja, akan lebih sulit dicari sekarang. Expect untuk Fullstack.
  • Modal utamanya: bisa pakai Claude Code dengan baik. Bukan teori tentang AI, bukan paper-paper ML. Tapi tools-nya, dan how to use it well.
  • PD aja. Target fullstack AI roles meskipun belum PD. Nggak ada yang nggak mungkin selama kamu mau invest waktu di tools-nya.

Kalau kamu lagi di posisi yang sama, atau punya pertanyaan soal proses switch-nya, feel free reach out di Twitter @nayakayp.